Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat
Poltekkes Kemenkes Semarang Tingkatkan Kompetensi Kader Posyandu melalui Pelatihan Skrining Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular dan Komunikasi Efektif
Dalam upaya meningkatkan peran kader Posyandu Lansia dalam deteksi dini Penyakit Tidak Menular (PTM), Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Semarang menyelenggarakan kegiatan pelatihan dan pendampingan kader Posyandu Lansia dengan tema “Skrining Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Komunikasi Efektif pada Kader Posyandu Lansia“ pada tanggal 4 Juni 2026 yang dilaksanakan di Aula Kelurahan Kedungmundu, Kota Semarang.
Kegiatan ini diikuti oleh kader Posyandu Lansia Kelurahan Kedungmundu dan dihadiri oleh Kepala Puskesmas Kedungmundu, dr. Gita Nur Fitriandari, beserta jajaran tenaga kesehatan, termasuk Tenaga Gizi dan Tenaga Promosi Kesehatan (Promkes). Turut hadir perangkat Kelurahan Kedungmundu dan tim pengabdi dari Poltekkes Kemenkes Semarang. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Lurah Kedungmundu Bapak Yulistiyono, SE, dalam sambutannya beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang mendukung peningkatan kapasitas kader kesehatan di Wilayah Kelurahan Kedungmundu sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.
Penyakit Tidak Menular seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, dan hiperkolesterolemia masih menjadi masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada kelompok lanjut usia. Oleh karena itu, kader Posyandu Lansia memiliki peran strategis sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat dalam membantu deteksi dini faktor risiko PTM melalui kegiatan skrining dan edukasi kesehatan di tingkat komunitas.
Ketua Tim Pengabmas, Dr. Heni Hendriyani, SKM, MPH, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan kader dalam melakukan skrining faktor risiko PTM serta memperkuat kemampuan komunikasi kesehatan yang efektif kepada lansia.
“Kader Posyandu Lansia memiliki peran yang sangat penting dalam kegiatan promotif dan preventif di masyarakat. Melalui kegiatan pelatihan ini, kami berharap kader mampu melakukan skrining faktor risiko PTM secara sederhana dan memberikan edukasi kesehatan yang mudah dipahami oleh lansia,” ujar Dr. Heni Hendriyani.
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan kader sebelum mengikuti pelatihan. Selanjutnya peserta memperoleh materi mengenai skrining faktor risiko PTM dan komunikasi efektif dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Kader dibekali keterampilan komunikasi yang meliputi teknik mendengarkan aktif, membangun empati, penggunaan bahasa yang sederhana, serta penerapan metode komunikasi SAJI (Salam, Ajak Bicara, Jelaskan, dan Ingatkan) dalam pelayanan Posyandu Lansia.
Sebagai media pendukung pembelajaran, tim pengabdi juga menyusun dan membagikan booklet edukasi yang berisi materi skrining faktor risiko PTM, interpretasi hasil skrining, tindak lanjut berbasis perilaku CERDIK, serta panduan komunikasi efektif yang dapat digunakan kader saat melakukan pelayanan dan penyuluhan kepada lansia.
Setelah seluruh materi disampaikan, peserta mengikuti post-test sebagai bagian dari evaluasi kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman kader mengenai faktor risiko PTM, langkah-langkah skrining kesehatan sederhana, serta pentingnya komunikasi efektif dalam mendukung perubahan perilaku kesehatan masyarakat.
Kepala Puskesmas Kedungmundu, dr. Gita Nur Fitriandari, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara Poltekkes Kemenkes Semarang, Puskesmas Kedungmundu, dan Kelurahan Kedungmundu dalam upaya meningkatkan kapasitas kader kesehatan. Menurutnya, kader Posyandu Lansia memiliki peran penting dalam mendukung program pencegahan dan pengendalian Penyakit Tidak Menular melalui kegiatan skrining dan edukasi kesehatan yang berkesinambungan.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Semarang terus berkomitmen mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan secara nyata untuk mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta mewujudkan lansia yang sehat, aktif, mandiri, dan produktif.























